Kitab Kuning, Budaya Pesantren Yang Tidak Boleh Hilang

0
1081

Balung – Dalam ujian siswa akhir kelas enam, terdapat satu ujian yang menarik untuk di cermati, dimana para siswa akhir dibolehkan membawa kitab contekan untuk menjawab soal-soal yang diberikan kepada mereka. Kitab Bidayatul Mujtahid, kitab yang berisikan ijtihad dari berbagai madzhab yang 4 tentang segala persoalan perbedaan pendapat.

Kitab Kuning, Budaya Pesantren Yang Tidak Boleh Hilang

Kitab ini ditulis oleh Ibnu Rusyd, atau yang dikenal dengan nama Averroes oleh bangsa Eropa. Karena sejatinya perbedaan pendapat tentang sebuah hukum bisa di lihat dan difahami dari kitab ini, olehnya kitab ini merupakan kitab yang sangat kompeten dalam menjawab segala macam bentuk produk dari sebuah hukum. Dan kitab ini merupakan kitab pegangan wajib bagi santri Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember, karena dengan kitab ini kelak santri mampu menjawa tantangan zaman dan silang pendapat yang sering terjadi di masyarakat.

Kitab Kuning, Budaya Pesantren Yang Tidak Boleh Hilang

Sejak dulu berdiri, Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember dengan pola pendidikan dan pengajaran yang modern, yaitu yang memadukan 100 % ilmu agama dan 100 % ilmu umum, dengan sengaja untuk tidak melupakan kajian – kajian kitab kuning, karena ini merupakan budaya dari sebuah pesantren dari sejak dahulu kala, bahkan khazanah ini yang tidak pernah dimiliki oleh bangsa-bangsa besar sekalipun.

Kitab Kuning, Budaya Pesantren Yang Tidak Boleh Hilang

Olehnya, dalam setiap mata pelajaran Fiqh, dan setiap ujian akhirnya selalu terjadi budaya membaca kitab kuning dalam menjawab persoalan-persoalan perbedaan di masyarakat. (Admin).

Comments